Kampanye Penuh dengan kebohongan
Ini adalah cerita hati...
Bukan tak yakin akan kebesaran Tuhan tetapi memang inilah hidup yang harus setiap orang jalani,


Dalam hal ini saya sering bertanya pada diri sendiri kenapa hidup ini bergitu rumat... inikah namanya hidup. aku sering merasa sendiri, aku sering merasa kurang semangat seperti hidup tidak memiliki arti, banyak hal yang membuat aku demikian saat aku memandang keatas begitu banyak orang yang hidup bermewah-mewah bahkan berlebih, sampai binatang piaraannya lebih menikmati hidup dari manusia yang hidup miskin. dan jika aku memandang kebawah lebih banyak lagi orang yang hidup begitu susahnya untuk mencari sesuap nasi, jika dikatakan mereka malas bekerja tidak juga bahkan mereka tak kenal siang atau malam untuk mencari sesuap nasi.
Dalam hati aku berpikir adilkah Tuhan itu... dengan kejahan orang dapat menikmati hasil kejahatnnya, orang bergitu tulus bekerja dengan mengucurkan keringat masih tetap hidunya susah...
dimanakah keadilan itu, Aku hanya merasa iba melihatnya dan tidak dapat berbuat apa-apa karena aku adalah salah satu dari mereka.
Apakah arti lagu Indonesia Raya
Coba anda simak kutipan bagian dari lagu Indonesia Raya
Indonesia tanah airku
( air yang mana )untuk kebutuhan sehari-hari air harus beli)
Hiduplah Tanahku
( Tanah juga tak punya, hidup dengan menyewa rumah atau dikolong jembatan)
Hiduplah Negeriku
(Negeri siapa, toh juga pemerintah tak perduli dengan keadaan yang mereka
alami)
Peminpin-pemimpin negeri ini sadarlah... dan lihatlah, jangan hanya duduk dikursi empuk menerima gaji yang begitu besar, mengambil uang rakyat denga korupsi, sadarlah...
Buat KPK Berjuanglah kami mendukung bahwa korupsi harus dimusnahkan dari muka bumi karena itu kejahatan yang paling biadab... yang seharusnya dihukum mati dan disiksa...
Para pengawas jangan mau disogok jalankanlah tugas dengan baik karena itu pekerjaan yang bergitu mulia, karena semua instansi dinegeri ini sudah dipenuhi dengan masnusia yang bermulut manis tetapi berperilaku lebih kejam dari binatang...
Baju Rombeng dan topi tuanya
melekat ditubuh yang kerempeng
kulit yang hitam berdaki sengat mentari
sring pula dikejar oleh lapar
dia coba duduk di emper jalanan
melihat balakasih sesamanya
tak jarang dia di hina juga dicela
raut wajahnya layu tak bersinar
bocah malang yang lahir telunta-lunta
ia menangis juga untuk siapa
bapak ibunya dimana mereka
memang nasib hidup di dunia
Sore seperti ini ibuku telah memandikanku di kamarmandi umun
stasiun.aku riang,apa aku ada penyesalan?mungkin esok. Saat aku bisa
mengeja kata,melempar batu atau memaki.
Mungkin kalau tuan berdasi di gedung terhormat sedikit
mengerti,mungkin generasiku tak pernah ada. Atau mungkin generasiku
selalu diadakan untuk mereka tetap menjadi dewan yang terhormat.
Tak perlu bertanya,percuma kalian bertanya-tanya